Penggunaan Sosial Media Dapat Mengganggu Kejiwaan

Penggunaan Sosial Media Dapat Mengganggu Kejiwaan
Kesehatan

Berita mengejutkan ini datangnya dari Inggris. Seorang remaja kinyis- kinyis, namanya Tallulah Wilson, menabrakkan diri ke kereta api yang sedang melaju di stasiun St. Pancras, London. Minggu, 14 Oktober 2012 , remaja 15 tahun itu menemui ajal. Tallulah yang juga balerina ini nekat bunuh diri setelah ibunya menutup akun Tumblrnya yang sudah memiliki 18.000 followers. Menyakitkan tentu bagi gadis berambut pirang ini. Namun, ibunya harus berbuat begitu setelah melihat banyak foto Tallulah yang sedang melukai tangan dengan pisau kecil atau membenturkan kepalanya ke dinding.

Banyak yang menyayangkan aksi Tallulah. Apalagi kalau menilik alasan dibalik aksi bunuh dirinya. Di sisi lain, tidak sedikit juga orang yang bersimpati dan menyalahkan media sosial, dalam hal ini Tumblr. Media sosial dianggap sebagai penyebab ia menjadi begitu terobsesi untuk menyakiti diri. Apa benar begitu? Mary Hassell, penulis laporan kematian Tallulah mengungkapkan, gadis itu memang rendah diri dan pendiam. Pada Mei 2012, seorang psikiater memvonis Tallulah mengalami depresi berat.

Ia bermasalah dengan beberapa temannya di sekolah dan ibunya sangat mengatur kegiatannya sebagai balerina. Dari hasil itu, Marjorie Wallace, CEO dari Sane, badan amal kesehatan mental mengatakan, Tumblr bukanlah penyebab Tallulah bunuh diri. Melainkan karena ia punya masalah kesehatan mental yang cukup serius. Tumblr (atau media sosial lainnya) hanyalah salah satu jalan yang dipilih Tallulah dan mungkin orang-orang lainnya untuk mengekspresikan pikirannya, terangnya.

Bukan soal frekuensi
Tallulah memang bukan kasus pertama yang mengaitkan media sosial dengan kesehatan mental. Sejak media sosial booming beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian dilakukan. Salah satunya oleh Holly Shakya, asisten profesor bidang kesehatan global di Universitas California. Penelitian itu antara lain menyim pulkan, sisi positif dari hadirnya media sosial adalah bisa membuat seseorang menerima dukungan sosial dengan cara yang unik. Tapi mereka yang sering memperbarui status media sosialnya justru memiliki kesehatan mental lebih buruk.

Mellia Christia, M. Si, M. Phil, psikolog klinis dari Universitas Indonesia, setuju dengan sisi positifnya. Namun menurutnya, untuk menentukan kondisi kesehatan mental seseorang tidak bi sa sematamata berdasarkan peng gunaan media sosial saja. Ada ber bagai tahap pemeriksaan aspek psikologi. Prosesnya antara lain wawancara (dengan pasien dan orang-orang terdekatnya), observasi (berinteraksi secara langsung dengan pasien), dan tes psikologis. Termasuk di dalamnya melakukan pengamatan terhadap perilaku pasien dalam menggunakan media sosial, tutur Mellia.

Seseorang yang tengah bermasalah dengan psikologisnya, bisajadi menggunakan media sosial sebagai cara mengatasi kecemasan maupun memintabantuan orang lain. Bisa juga sebagai media penyaluran atau ekspresi emosi orang itu. Sebab ia sulit kalau melakukannya langsung. Contohnya, ketika kita melihat akun seseorang teman yang statusnya soal ribut dengan pacar. Mungkin kita risih dengan bernggapan, buat apa sih, pasang status begitu. Namun di sisi lain, kemungkinan itulah sinyal adanya kekerasaan dalam hubungan asmara mereka. Nah, tentu kita tidak bisa langsung menentukan teman kita itu mengalami gangguan kesehatan mental. Apalagi hanya berdasarkan seringnya dia memasang status hubungannya dengan pacar di media sosial.

Tanda diterima
June Eric Udorie pernah menuliskan ceritanya di rubrik Opinion di theguardian.com. Ia menuturkan, ketika ibunya mematikan WiFi pada pukul 23.00, adiknya selalu memohon untuk menyalakan hotspot ponselnya. Ini dikarenakan sang adik harus selalu memuat satu cerita di Snapchat dan membalas setiap komentar teman-temannya.

Suatu kali June menolak permin taan itu dan adiknya marah be sar. Belakangan ia tahu, sang adik sangat takut teman-temannya akan mengabaikannya jika ia tidak membalas komentar-komentar tersebut. Lain June, lain Laras Sekarasih, Ph.D. Psikolog media dari Universitas Indonesia ini berkata, ada teman ku liah nya yang mengunggah foto. Namun tidak lama ia menghapusnya. Ketika ditanya alasan foto dihapus, jawabannya karena ia malu mendapat likes sedikit.

Atau kita mempunyai teman yang selalu melihat jumlah likes atau komentar setiap saat ketika ia mengunggah sesuatu ke media sosialnya. Lalu ia akan berucap Kok dikit ya yang nge-like?. Kemudian ia menjadi senewen karena hal itu. University of Melbourne dan Monas University pernah membahas mengeni suatu 70 penelitian yang terkait hubungan media sosial dengan depresi dan kecemasan pada penggunanya.

Kesimpulannya antara lain, seseorang bisa depresi hanya karena merasa tidak diterima di tandai respons yang sedikit. Aki bat nya, orang itu sering mem bandingkan dirinya dengan orang lain. Saya tidak bisa bilang depresi di sini ialah depresi yang harus ditangani oleh psikolog klinis, tapi mungkin lebih ke arah perasaan envy atau iri dan takut, ungkap Laras.

Manusia pada dasarnya ingin diterima dan dicintai. Karena itu dalam pergaulan di media sosial, menurut Laras, likes, komentar, atau retweet, dianggap sebagai manifestasi dari tanda penerimaan. Semakin banyak mendapat respons, ia menganggap dirinya semakin diterima oleh orang lain. Manusiawi sekali kalau kita se nang mendapat likes banyak tapi sedih jika tidak ada yang nge-likes. Masalahnya menjadi rumit ketika ia bolak-bolik melihat likes atau komentar baru dan mem bandingkan dirinya dengan orang lain, tutur Laras.

Hidup Sehat Dari Makanan Mentah
Kesehatan
Menjalani Hidup Sehat Dari Makanan Mentah

Hidup Sehat Dari Makanan Mentah – Ada sebagian orang yang memilih menganut pola makan mentah (raw food) untuk membuat tubuhnya lebih sehat. Jika memang merasa cocok atau mau mencoba, kita pun bisa mengikutinya. Tentu saja tidak asal mendadak raw food, karena semua ada prosesnya. Menu makan siang Putu S. Kardha …

Penyebab Kebutaan Pada Mata
Kesehatan
Penyebab Kebutaan Pada Mata

Penyebab Kebutaan Pada Mata – Sama seperti tekanan darah tinggi yang bisa bikin stroke, tekanan bola mata yang tinggi juga bisa mengakibatkan kebutaan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan bola mata memegang pengaruh yang sangat penting terhadap penglihatan. Sama pentingnya dengan bagian-bagian mata lainnya seperti retina, kornea, iris, dll. Namun yang …