Anak Enggan Bersosialisasi

Ibu Mayke, saya ayah dari 2 anak. Anak pertama laki-laki (4) dan si bungsu, perempuan (2). Si sulung saya masukkan PAUD agar bisa bermain dan bersosialisasi dengan temantemannya. Tapi anak saya itu cenderung diam dan enggan bersosialisasi dengan temantemannya. Padahal kalau dengan saudara-saudaranya, dia bisa langsung bermain bareng, kejar-kejaran dan bercanda. Tapi begitu di sekolah, langsung “melempem”. Bagaimana cara melatih anak agar lebih berani berinteraksi dengan temantemannya? Apalagi anak saya lelaki, saya maunya berani dan luwes bergaul. Mohon saran Ibu Mayke. Terima kasih. Rino Romano – Surabaya.

Pak Rino tidak sendirian, orangtua lain pun mengeluhkan anak mereka yang tidak mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Dengan sepupunya, anak merasa nyaman sebab sudah ia kenal sejak bayi; sedangkan dengan teman sekolah, anak merasa ragu-ragu, khawatir, kalaukalau teman menolaknya atau mengamcam keberadaan dirinya. Dari studi literatur mengenai perkembangan sosial anak-anak yang sulit beradaptasi, pada umumnya mereka bisa mengatasi ketidakmampuannya untuk beradaptasi dengan teman.

Hal ini terjadi karena dalam proses perkembangannya, kemampuan kognitif semakin baik, terjadi proses belajar berdasarkan pengalaman pertemanan, hingga akhirnya anak-anak ini mempunyai pemahaman diri, bahwa kalau terus-menerus menyendiri, kurang bergaul, akan merugikan diri mereka. Apakah anak-anak ini dibiarkan berkembang sendiri sampai akhirnya mereka sadar sendiri? Tentunya tidak.

Anak-anak ini tetap perlu didukung untuk bersosialisasi dengan teman sebaya, baik yang ia temui di sekolah, di tetangga, pada kegiatan ekstrakurikuler, pertemuan dengan anak-anak teman orangtuanya, dan lain-lain. Orangtua tidak perlu seringsering menasihati anak agar mau bergaul dengan teman, sebab dikhawatirkan ia akan merasa dituntut untuk berteman, padahal berteman seharusnya dihayati sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bukan karena terpaksa.

Selain itu dibutuhkan kepekaan orangtua terhadap perubahan perilaku anak, sebagai reaksi atas pengalaman buruk dengan temannya, atau mungkin dia terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Dalam hal ini orangtua perlu tanggap dengan berempati dan mendukungnya dengan menyatakan bahwa dia perlu belajar menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, mencari cara untuk menghadapi ejekan teman. Tanyakan pada anak , apa yang akan ia lakukan untuk menghadapi situasi tidak nyaman dengan tujuan agar anak mampu memberdayakan dirinya sendiri dan menjadi lebih tegar.

Untuk anak yang akan menghadapi tes IELTS sebaiknya berikan ia pelatihan di lembaga kursus persiapan IELTS di Jakarta yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *